drenched


w o r d s p l a y


"not good enough, but heyyyyy nice try".


Vsco.cam Tumblr


Tuesday, June 23, 2026

Personal Museum I currated Myself, with No visitor but Me.

Ingatan terakhirku tentang dia adalah hal yang bagus

segala sesuatu yang tertinggal adalah hal-hal baik yang indah tanpa ada nyeri sedikit pun yang menandakan pernah adanya luka

bertahun-tahun lamanya, lama-lama yang menyedihkan pun menghilang dan semburat entah kemana. melebur dan membaur dihabisi oleh waktu

yang tersisa adalah hal-hal baik yang menyenangkan

apalah itu sedih dan gulana? apalah itu ingatan tentang luka? sudah tidak ada

satu-satunya hal yang pasti adalah, kita saling berbahagia meski berpisah karena terluka dan membekas sangat dalam

anehnya, sekarang sudah tidak apa.


kalau diingat betul-betul, semuanya kenangan bahagia

kalau rindu, aku akan banyak-banyak mengintip memori itu. 

jujur saja, sekarang jauh lebih mudah untuk mewujudkannya.

karena apa yang ingin kulihat tentang dia sekarang, adalah karya seni publik.

di wajahnya dan di lagunya, semua berwujud kedalam karya.


sebuah seni yang dahulu kunikmati personal, sekarang adalah karya seni global.


itu cukup, buatku, yang melihat secara diam-diam melalui celah lubang dalam diam..






Sunday, April 26, 2026

PREPARE US BOTH FOR THE VERSION OF LOVE THAT DOES NOT HURT

I'm not sad nor angry anymore

but sometimes, the brain just revisits the memory. I accept the reality, I even hesitate to reply his texts again. It still pings my heart whenever someone mentions his wellbeing. But unfortunately, the emotional memory still lingers.

I just disappointed for things that happens. Somehow, i see his shadows and it starts looking like a vivid reality. Part of me still hoping that we eventually will ended up together. For the sake of what we have been through. The connection and all the feelings are too lively to be killed. 

I like him and thingking about it time to time. The brain files them, replays them and tries to make a meaning out of it. Still, it left me breathless. Mention it regularly in my night prayers, asking that will we collide? wondering if we were meant to be...

I like him because 

I like the version of myself when I'm with him.

I like how he brings out the happinnes in me.





Thursday, August 28, 2025

the weight of unsaid things

Visualize a pain that felt like a deep cut, a sting, and a shake in your nervous system.
Like you are being pushed into a corner where the only choice is to remove yourself,
so they don't have to face the discomfort of rejecting you.

An awful loop is created:

that you are not chosen, again.
but you are also not released.
that you left carrying two burdens---hurt and responsibility

It makes total sense why the misery feels like have no end.
Because you are being made the "villain" in your own heartbreak story,
even if all you did was show up with honesty
even if all you did was show them a love you carry

How come a person who born to be a lover, forced to be the one who got away?





Saturday, June 24, 2023

sebesar buah duku

Segenggam rindu yang kumasukkan dalam kantong beludru warna biru. Sudah aku tambahkan beberapa butir kenangan, potret, baju, topi, juga sepatu yang mengingatkanku padamu. Aku ikat rapi bersamaan dengan alamat rumahmu yang kutulis pada sobekan kertas daur ulang yang biasa kugunakan untuk mengganjal pintu kamarku. Dan kumasukkan semuanya ke dalam peti kayu mungil yang muat di saku bajuku. Membawanya kesana-kemari, menemaniku dalam perjalanan magis sejak dua minggu yang lalu. Tak pernah sedikit pun aku berniat untuk mengirimkannya kepadamu, karena jujur saja nyaliku bahkan tidak pernah sebesar biji salak pondoh. Selalu sekecil duku. Menimbang berat nyaliku adalah sia-sia, seperti membuang-buang waktu dan baterai pada semua merek timbangan digital yang pernah ada. 

Pada sepanjang jalan, sesekali aku letakkan tangan di saku, memastikan keamanan peti kayu itu. Terkadang ingin kubuang begitu saja, berulangkali terpikir untuk meninggalkannya di trotoar dekat tiang listrik berbau kencing anjing liar dengan sentuhan topping tai tikus got. Membawa-bawa rindu dan kenangan terasa melelahkan. Walau kecil tapi cukup untuk membuat saku bajuku menjadi longgar, cukup untuk membuat tulang punggungku menjadi bungkuk seperti penderita kifosis. Tapi lagi-lagi, nyaliku yang sebesar duku itu menghentikanku. Entah apa yang aku takutkan, padahal dengan lenyapnya peti kayu itu sama saja dengan melenyapkan penderitaanku. Mungkin aku terasa sayang, karena siapa tahu di masa datang, peti kayu ini berguna, baik-baik aku harus menjaganya dengan pikiran suatu saat peti ini adalah penyelamat.

Di minggu pertama aku berkontemplasi, apakah perjalanan ini begitu berarti, dan kalau iya, seperti apa tempat yang nanti menjadi pengakhiranku. Apakah aku akan berada di tempat yang tinggi, hijau dan sejuk. Atau berujung pada tempat yang tandus, kuning dan panas. Apakah aku menyesali dan mengutuk langkah kakiku, apakah sebaiknya aku di rumah saja menunggu waktu yang pelan-pelan melemahkan aliran darahku. 

Pada minggu kedua aku mulai tidak memikirkan apa-apa, karena sudah terlanjur berjalan jauh, seperti merepotkan saja rasanya kalau aku harus memutar balik dan kembali ke pelukan ranjang di kamarku. Maka aku berjalan kedepan dan mengikuti arah jalan. Sesekali berhenti di kedai yang tidak terlalu sepi tapi tidak juga terlalu berisik, menikmati kudapan seadanya meski tak sering juga makanan yang disajikan terasa seperti tai kucing yang kering pada tumpukan pasir bangunan. Tidak apa-apa, kiranya masih bisa aku akal dengan minuman soda rasa-rasa. Kemudian, aku melanjutkan perjalanan lagi.

Berhenti di setiap tempat baru, mengenal beberapa orang baru yang tidak sengaja berpapasan. Memakan makanan asing, meminum minuman umum. Semua aku lewati dengan biasa-biasa saja, menyimpan baik-baik memori baru untuk menumpuk memori-memori yang lalu. Kilas balik kejadian yang tidak mengenakkan akan aku akal dengan kejadian tidak mengenakkan lain selama perjalanan. Asal yang lalu benar-benar tertumpuk sampai aku malas untuk membongkar kepalaku untuk melihatnya. Kenangan buruk tidak pernah terlupa, tapi setidaknya aku bisa merasa malas untuk mengingatnya.

Seperti itu penyembuhan diriku. Aku lalui semuanya dengan perasaan yang aku biasa-biasa-kan saja. Berpura-pura semua terkendali sampai aku lupa diri pada kenyataan yang aku hidupi. Bersembunyi saat bersedih meski tidak ada yang berubah jika aku menangis.

 

 

p.s

Oh, kabar peti kayu itu?

Setelah dua minggu, peti kayu itu masih ada di saku bajuku. Tidak pernah betul-betul aku buang atau kukirimkan pada alamatmu. Karena yaaa, kau tahu kan. Nyaliku hanya sebesar buah duku.

 

x





Thursday, June 15, 2023


 





Monday, February 6, 2023

flimsy love will end poorly


I used to love the wind cause it brought your smile within

the sound of your tumultuous laugh with a little touch of your misspelled

a dropdead joys drenching a wooden round table in front of us

you held high a lot of cans and empty cups

shouting profanities and rambling through the heavy air

stink and stain under your feet hiding the watery palms in the back of your trouser

we cheered to our misfortune

and surrender to the path of salvation which led us to whoever we become right now

we wrote things and loathed everything of what we should or shouldn't 

like a teenager under a certain substance

we practically crossed the sobriety in our daily journal 

what i miss in those day, that we got each other's back

we still now, but barely

exist but barely living

like breathing but not alive

like hugging but questioning the warmth.







Thursday, July 29, 2021








 





Saturday, July 24, 2021

alumni pemikir

Cerita tentang cinta tidak selalu berakhir indah. Katanya semua akan indah pada akhirnya, tapi barang siapa yang akan tahu akhir dari sebuah kisah? berhenti hembusan nafas pun tidak indah. itu adalah luka terakhir yang tergores bagi setiap orang yang merasakan maupun yang terlibat. Kematian adalah pelarian sedang cinta adalah pemanis selagi kamu berlari. Kabur dan pergi dari apa yang disebut dengan hidup.

Hidup bukan tentang pilihan. semua sudah ditentukan oleh siapa yang tahu. dan lagi-lagi kamu tidak punya kuasa atas hidupmu. sejak bayi pun kamu tidak bisa memilih dari keluarga seperti apa kamu lahir, dengan kondisi dan situasi apa yang kamu alami. makan pun tak bisa kamu memilih, sudah ditentukan kalau kamu akan meminum asi sampai umur sekian. Tentang ritme dan siklus, juga tentang garis yang tak bisa kamu gambar sendiri. Kalau suka, maka kamu akan tetap disini, kalau tidak maka silahkan berlari pergi.

Sama dengan cinta, semua cinta yang ada adalah hasil dari tawaran. cinta dengan model dan rupa seperti apa yang seseorang berikan. kamu hanya bisa menerima. tidak pernah bisa benar-benar memilih kepada siapa kamu akan memberikannya. bagi pemberi dan penerima, semuanya sama saja karena tak pernah betul-betul paham untuk siapa, kepada siapa perasaan cinta itu muncul.

Cinta yang seperti gula, membuatmu mabuk dan ketagihan. Seperti euforia. Menyenangkan sekaligus menegangkan. Sampai nanti, saat penyakit mulai datang, seperti diabetes yang akan kamu derita. Lalu segalanya terasa memuakkan. Senyum yang awalnya membuat hatimu kejang lambat laun membuatmu eneg. Terlalu manis, terlalu banyak gula. Dan kata terlalu pun membuatmu tertekan. 

Cinta itu seperti gula bagi anak kecil yang menjadi pesakitan saat dewasa. Bahkan cinta paling tulus pun memiliki efek samping. Jadi, bagaimana kamu bisa memilih kalau semua pilihan sudah kamu kuasai efeknya?

Selagi kamu berpikir, aku dan sekumpulan alumni pemikir lain akan terus pergi dan berlari.





Thursday, July 22, 2021

The color of accident

Ketika aku memutar ulang kenangan, aku tidak bisa mengingat detail penting yang terjadi dalam kenangan itu, dengan siapa aku berbicara, hal seperti apa yang aku bahas, kejadian lucu apa yang terjadi. Yang terlewat dari ingatanku adalah warna. Warna dari memori itu. 

Seperti hari dimana aku jatuh. Satu hari yang dengan cepat memutar balik hidupku. Hari yang meruntuhkan duniaku.

Saat itu, langit berwarna biru gelap dengan shading abu-abu. Malam dengan kabut tipis berwarna abu menyatu dengan kelip bintang berwarna putih yang menyebar seluas angkasa, sejauh jarak mata pandangku. Bersamaan dengan bias cahaya bulan berwarna kuning pucat, semuanya terlihat sedih seolah mengasihani, dan mencibirku dari atas. Barangkali mereka beradu mulut tentang betapa jauh dibawah sana, menerobos selimut kabut abu, tampak seorang anak yang kecil yang terbalut dalam kegelapan yang meluap-luap.

Saat itu malam terasa sunyi, tidak ada bunyi apapun sampai-sampai seolah aku bisa mendengar suara detup jantungku, suara aliran darah yang mengalir dalam nadiku. Lambat laun, sayup-sayup aku mendengar suara paling berisik dan mengganggu gendang telinga. Suara yang terlalu nyaring dan looping didalam kepala, seperti suara gelas kaca yang sengaja dijatuhkan dan terus berulang-ulang. Kemudian disusul oleh suara berdentum dan rasa sakit dipunggung seolah badanku dibanting dengan kasar dan jatuh diatas paving. Dan aku samar-samar bisa mengingat rasa sakit yang menjalar dari punggung sampai kepalaku. Sekilas aku melihat lengan dan menjatuhkan pandang ke buku-buku jari, warna merah beludru. Bunyi darah yang terpompa dari jantung ke seluruh pembuluhku sudah hampir tidak lagi terdengar. Kemudian, aku kembali menatap langit. 

Pada malam itu, langit terlihat lebih gelap dari biru kegelapan, lebih abu dari kabut warna kelabu, bias bulan jauh lebih temaram dan titik-titik bintang tidak lagi putih, melainkan kuning seperti api lampu oblik yang menari dan berkelip dengan efek bokeh. Sejauh aku mengingat, itu semua terjadi selama 30 detik tepat sebelum kegelapan mengonsumsi aku sampai habis.




Wednesday, July 14, 2021

tolong




Friday, July 9, 2021

labelled

Halo pria jangkung dengan raut meraung

dengan mata sayu yang penuh selidik

sesekali melempar lirik kesana kemari

penasaran dengan sekitar tapi tidak pernah membuka mulut untuk bertanya

dengan rahang yang keras

sesekali menggertakkan gigi

membunuh orang orang dalam kepalamu sebanyak lima kali

dengan bibir semerah stroberi

yang tak pernah menyungging senyum barang sekali

barangkali bertutur, kau akan benar-benar memutus nadi

Dingin yang tak pernah hangat

Tinggi yang tak pernah merendah

Kau seperti berdiri di atas langit

menghardik orang dan mematikan jiwa mereka dengan keji







existential dread

Do you guys ever think that being exist is actually tiring?

Lelah sekali. 
Hanya karena kamu ada, hidup, dan mempunyai akal, bukan berarti semua akan baik baik saja. 
Bahkan semua akan tetap sama, dengan kata lain; tidak ada yang berubah meski kamu menangis.
Hidup itu indah. Bernafas itu berkah. 
Berlaku untukmu yang menggenggam tujuan.
Kalau kamu memiliki segenggam tujuan.




Sunday, June 13, 2021

life trying to push my buttons instead of lucks

Bersama-sama dengan seseorang selama 24 jam di setiap minggu tidak akan menjamin cukupnya waktu untuk memahami isi kepala orang tersebut. 

Tidak akan cukup rentang waktu untuk mengerti kenapa dia memilih baju berwarna hitam di pagi hari sedang kuning di malam hari.

Tidak akan pernah cukup waktu untuk kamu mengetahui kenapa dia memilih tidur di lantai ketimbang di kasur kapuk.

Sekalipun kamu bertanya, tidak cukup waktu untukmu mengetahui jawaban yang terucap apakah kebenaran.

Sekalipun untuknya, tidak akan cukup waktu untuk berfikir tahu bahwa pertanyaanmu hanyalah retorika.


Manusia akan menjawab apa yang ingin dia katakan. Bukan berarti itu adalah sebenar-benarnya. Karena sepertinya kebenaran akan menjadi pasti jika dipercaya tanpa harus dikritisi.





Friday, April 9, 2021

catatan yang tumbuh
Untuk Aini di masa depan, hari ini tepat di tahun 2021 tanggal 9 April, sore hari sekitar jam 5, kamu sedang duduk di rooftop salah satu kedai kopi didekat SMP 3. Suasananya sunyi dan kamu terlihat tenang, tapi sepertinya banyak yang kamu pikirkan. Pikiranmu tidak pernah detail, kamu selalu memikirkan garis besar dalam lanskap hidupmu. Kamu hanya takut pada hari esok. kamu takut untuk tumbuh. Kamu takut hanya usiamu saja yang bertambah tapi tidak diiringi oleh kemampuanmu. Pengalamanmu tidak banyak, kamu hanya seperti mencelupkan telapak kakimu disetiap kolam, tapi tidak pernah benar-benar basah. 

Kamu baru duduk sekitar 40 menit tapi sudah batang ketiga rokok wangi berry yang kamu hisap. Kamu sama saja dengan kemarin, tidak banyak yang berubah tapi kamu begitu takut bagaimana kalau kamu berubah saat keluar dari kedai ini, saat menyalakan mesin motor, saat berbelok arah pulang. Kamu tetap saja takut menua 20 detik dari sekarang. Kamu takut kalau catatan ini pun akan kamu simpan ke draft dan tak pernah lagi kamu buka.

Kamu sudah berumur 25 tahun. Jantungmu sudah berdetak selama itu. Bayangkan sudah berapa kali darahmu terpompa keseluruh tubuhmu selama 25 tahun ini. Bayangkan sudah berapa lama jantungmu berdetak dan tak sekalipun lupa untuk memompa. Lama sekali. Tapi 25 tahun untuk umur manusia itu belum terasa lama, ini masih muda.

Tapi kamu malu kepada darahmu yang mengalir, kepada oksigen yang kau hirup, kepada potrait pemandangan yang kamu lihat. kamu belum apa-apa. Andai daun di sebrang jalan bisa bicara mungkin dia berkata "ada mbak-mbak reguler yang sedang sendirian". 

 

Catatan ini sengaja kamu buat untuk kamu lihat esok hari, apakah perasaanmu masih sama dengan sekarang? atau sudah berubah arah?






the anchor

I was never meant to be enough. I was the anchor.

Dragging everyone down and let them see the surface

No more.






undisclosed wish
Hari ini rambutku terasa ringan, kepalaku tidak lagi terasa berat dan hidungku juga tidak mencium bau lepek sebab rambut yang berkeringat karena matahari.

Sepertinya sudah lama aku tidak berambut panjang. Terakhir kuingat rambutku pernah panjang sepinggang dimasa SMA, rasanya cukup gerah dan kepalaku selalu pusing rasanya ketika kuikat rambutku. Setelahnya, aku selalu berambut pendek, paling tidak kira-kira sekitar sebahu dan sekarang sudah lebih dari itu. Tiba-tiba saja aku terpikir ingin ganti gaya rambut, memotongnya sedikit lebih pendek dan tidak lebih membosankan dari yang sekarang.
 

Hanya saja aku takut kalau-kalau model rambut yang baru kurang bisa menyembunyikanku. Rambutku yang sekarang tidak begitu panjang tapi terasa begitu pas untuk menyembunyikan air mukaku. Aku merasa kalau lebih pendek dari ini, kekuranganku akan jauh tampak oleh pandangan jarak dekat. Pasti aku akan merasa terekspos dan gerak-gerikku akan selalu terawas, membuatku tidak tenang.
 

Bukan karena aku punya sesuatu seperti rahasia yang layak untuk disimpan, sesuatu seperti itu aku tidak punya. Aku menjalani hidup sebagai orang yang biasa-biasa saja, tidak memiliki kemampuan yg bisa dibanggakan, pencapaian yg bisa dirayakan, pula tujuan yg bisa tersentuh harapan. 

Bagiku, hal-hal seperti hasrat, gairah, bakat dan kemampuan itu seperti privilege yang jelas aku tidak terlahir mendapatkannya.

Katanya, setiap orang terlahir dengan bakatnya masing-masing. Entah bakat itu terlihat atau terpendam. Tapi sudah seperempat abad aku hidup, aku masih belum juga menemukan apa bakatku, belum ada sesuatu yang berdesir dihatiku ketika aku mengerjakan sesuatu. Yang aku tau hanya terus saja melakukannya sampai aku bosan. Kurasa semuanya selalu berakhir dengan kebosanan. Aku tahu usia 25 tahun itu masih dibilang muda, paling tidak masih ada waktu untuk mencari apa yang aku mau. Murakami saja baru mulai menulis di usia 29 tahun dan sampai sekarang dia sudah seperti legenda. Dalam pembelaanku, aku kan tidak tau apakah waktu pencarianku cukup setidaknya sampai sebelum usiaku tertutup.

Banyak hal yang sudah aku coba, beberapa jenis kerajinan tangan sih aku bisa, tapi ya hanya sekadar bisa. Tidak sampai bisa disebut ahli. Keahlian begitu aku tidak punya. Sehingga tidak jarang orang mengatakan bahwa aku tidak tulus dalam bekerja, terkesan seperti terpaksa atau setengah hati. Aku sendiri tidak tau apakah kesan seperti itu yang aku tunjukkan karena aku selalu merasa aku melakukan semuanya dengan baik dan cukup menikmatinya. 

Tapi terkadang, ketika aku benar-benar mencurahkan tenagaku untuk sesuatu, orang terlalu menghakimi dan mengkritisi seolah mereka serba tau, seolah mereka seorang guru. Tidak sampai menyakiti hatiku sih, tapi cukup menjadi salah satu alasan meredupnya semangatku. Yang terlontar dari mulut mereka mungkin sebuah bensin, tapi entah sebelum tetesan bensin itu jatuh kepadaku, atau dalam proses menuju kepadaku, entah senyawa apa yang tercampur sehingga berubah menjadi air yang mengguyur percikan kecil di nyawaku. Terdengar seperti seorang pecundang bukan? bukannya membara terbakar semangat melainkan padam hangus menyerah. 

Pantas saja banyak yang enggan meladeniku.

Sebenarnya banyak yang aku inginkan, tapi terasa rumit seperti sebuah kemustahilan dalam mewujudkan, seperti membangun seribu candi dalam semalam. Bagiku, setiap hal kecil yang aku dambakan adalah sejauh wish, yang tidak pernah sedekat hope.

Kau tau kan, apa beda wish  dengan hope? begitulah.





Wednesday, April 7, 2021

contradictory
Whenever i see people down, i reach to them. 
Being all ears is the best all I can do.
I know its none of my concern But, I don't want to see people either in internal or external pain.
If I was there, somehow i kinda feel like am half responsible of their breakdown. 
I should be doing something, 
I must do something, 
I obliged to put their smiles back on.
Because, for some..  
Tears is an epitome of weakness. 
It is transparent. 
You can see right through the agony in every drops of it.
 
People wont be normally burst in tears, especially not in front of the others. 
So, when they do, I devoted my time and ears for them as long as it needs, 
for me to sincerely appreciate their courage.
 
 
 
 
"let loose, 
don't be so hard on your self, 
take a rest, 
deep breathe,
for your heart to bare with all this and keep beating up til now, you really did well"
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
oh, i wish i could be there and say that to myself.
 


 







Tuesday, March 30, 2021

Naive
Back to the old days of me, when pain and ache are such a bestie.
Being kicked and slapped by reality
Oh! 
Can you please unseen me? I'm sure you'll get an invitation to a party. 

Ah.. I always remember the day when i chillin' by the terrace, admiring the afternoon skies, everything just.... calm. 
Well I hope you just never come out from the dusk.

I thought I was the only one
I thought I was one of a kind
I wish I know that you are the false alarm, beforehand.




Friday, February 26, 2021

4 pm
life sucks.
(well, at least with them its funny)





Monday, January 18, 2021

a dilemma


 

There is thing called "revenge bedtime procrastination". Its a thing for people to refuse to sleep because they dont really have much control over their daytime-life. So they will sleep very very late at night or just not sleep at all until dawn, even tough they are super tired cause they dont want their free time to end and tomorrow to start. A kind of people that hate tomorrow so bad, or lost in their wild thoughts and such. 

Ive been thinking a lot these past few nights. Not because i love to think, no one loves it i guess, not in the "a.m" at least. Someone might say that its better to sleep before 2 in the morning. because nothing comes good after that, well i agree. Every little pain and hurtful comments you have heard in your entire life are comes and drown you alive. Mockeries from past elementary school that you never remember before, are suddenly hits you like a real pro. Everything in you just pure fallacy, its weighing you down, and you are in pain, you wish for this hurting to go end, a misery you can no longer bear, an agony state you are in.

You spent countless nights to escape your own thought, secretly hoping that tonight ends early, but wishing for tomorrow to never comes..

 

CRY (IF YOU WANT TO)
holly cole
 
Cry if you want to
I won't tell you not to
I wont try to cheer you up
I'll just be here if you want me
Its no use in keeping a stiff upper lip
You can weep
You can sleep
You can loosen your grip
You can frown
You can drown and go down with the ship
You cry if you want to
Dont ever apologize venting your pain
Its something to me you dont need to explain
I dont need to know why
I dont think its insane
You can cry if you want to
The windows are closed
The neighbors arent home
If its better with me than to do it alone
I'll draw all the curtains and unplug the phone
You can cry if you want to
You can stare at the ceiling and tear at your hair
Swallow your feelings and stager and swear
You could show things and throw things and i wouldnt care
You can cry if you want to
I wont make fun of you
I wont tell any one
I wont analyze what you do or you should have done
I wont advise you to go and have fun
You can cry if you want to
Well its empty and ugly and terribly sad
I cant feel what you feel but i know it feels bad
I know that its real and it makes you so mad
You could cry
Cry if you want to i wont tell you not to
I wont try and cheer you up
I'll just be here if you want me
To be
Near you





Wednesday, January 6, 2021

Sure, please welcome.

 
Take your time, its all yours

I know how people see me as, I know from the glints in their eyes, from the uplift smirks on their mouth, and for that I kind of let them be. Enough is not how they define me. But i love them anyway, i love how they manipulated me, gaslighted me, bullied and talked about me behind my back. there is a thin line between love and hate tho. i decided to accept both of the feelings.

Sometimes I worry that I might be a masochist. The hurt, the scar, the sore i kinda enjoy them all. 

Bring it on! I say. and if you dont have anything to stab me from behind, oh let me lend you some. i had a lot of knives in my back anyway, you can gladly yank it out and yank it back in. I dont mind.

And sure, I just "get over it" after all.






To be Different, To be Queer

 

                 Queer means lot of things to lot of different people. Being queer means that they are being different. People more likely to say that gay, lesbian, bisexual or transgender is the definition of queer. However, queer aint always about LGBT but LGBT is part of queer. Therefore, despite of whatever kinds of sexuality you have, you could possibly be considered as queer since Queer Theory itself is confusing, it is multilayered and very complex study. 

Curiosity has grown overpowering my confuse feeling, which somehow it catch my attention and what I get from Beasley's book of Gender & Sexuality: Critical Theories, Critical Thinkers is that; Queer theory sees identity as thoroughly socially constructed and internally unstable and incoherent e.g. as a quicker way saying LGBT. In short, Queer Theory is a study about the minor sexuality (something which seen as abnormal to society) i.e. Intersex, Bisexual, Trans, Lesbian and Gay.

A heterosexual with gruesome and kinky ass fetish is queer.  Or straight person with a pansexuality (having a desire to intertwining themselves with animals sexually) is queer. Or a heterosexual couple (with masculine female and  feminine male but both loves each other) is also a queer.

 Society beliefs that transgender, transsexual was seen as the abnormal since the standard of normal for them is the biological sexual appeal. Society does not really care about what’s in their thought. They mainly judge you based on what they ancestors had told them. So, basically you got peer pressured from dead people.

And here I’ve been thinking...... there is a classic sentence that society often says to them like, “kamu itu menyalahi aturan, menyalahi kodratmu”. The “kodrat” they are saying is based on the biological sexual appeal. But, WHAT IF that the “kodrat” here is actually“their thought, their hormone, their actual identity, the feeling of more likely to be a girl/boy”. The problem here is that people/society does not want to listen. They automatically sentenced the minor sexuality as wrong and abnormal. 

Perhaps, and perhaps they have been mistaken. Because its sounds wrong to hear someone accussing and mocking others, just because they have a different way in perceiving things. And  I guess that all of those trans, bisexual, intersex, gay, lesbians have experienced an identity-war inside their head and shouldnt we need to salute them for taking the big leap, hard decision, to finally able to face their difficult time and rough battle??

So now, tell me bout the queer in you, because to be honest, mine is... 

Well, i am a heterosexual which I only wanting to have segs with men, But... I kind of have sexually stirrings with pretty women, the pretty face with strong jawlines, nice laugh and a lil bit sassy with rounded body parts. Thats my dream girl, the kind of girl who able to lit a fire in my heart. I dont really care about the labels tho. Also the way you guys look at me, like my appearence, really, I dont frigging dress to seek permition from the society, Im not a fem to make their mouth shut. I have a tiny bit of fuck to give and so they better stop saying that a girl should never cut their hair short, or to cut their bangs up the roots and wear boys' clothes. I couldnt care less, ignorance issa bliss. And at some point sometimes, I like to make them secretly wondering what my sexual desires is. xoxo

 

 Besides, arent we all are queer in our own way anyway?

 





Monday, January 4, 2021

Better me? Nope. More like bitter me.
 
Please be notified that people does change.
We tend to blame others for not being treated like the way we used to be, I used to blame others.
I never knew and cut the crap out of their mouth, 
anger and facade, oh I've been living thru that the whole time
you will never know the real people, whats inside their head
fakeness is a great shield. you can count on that.
you will get used to it, to lying, to cheating, to hurting yourself more that you hurting others.
Because, reflection will hit you harder, 
insecurity and anxiety, dont you worry, you will walk side by side with it.
you will get used to it
you will.




Tuesday, December 22, 2020

runner
I have this particular tiny group of a friendship that lives and perceives thing in sceptical way, we tend to look something by the worst. 
we never knew that we long for a kisses, for a hug, for a comfort until we sunk, deeply in loneliness.
we got each other back, but it wasnt enough. we are just a bunch of losers who losts in each other battle. we aint a survivors, 
because we ran. 
we ran.







to find myself
people mostly understand themselves only after they destroyed themselves, and only in the process of fixing themselves, they will find who they really was.
But me, 
to destroy myself, 
or in the process of fixing myself, and after
I will never know who i really was for me to always lost.




Monday, December 21, 2020

tersesat


 

"Tuhan sepertinya senang mempermainkan manusia" ucapnya seraya memukul-mukul tanah, "Lihat, betapa banyak orang-orang yang dibuat gila oleh-Nya, coba katakan orang mana yang masih waras setelah dibolak balik hidupnya, diberiNya kemiskinan dan kelaparan serta dipaksa untuk menjadikan keturunannya bodoh sebab tak bisa dari mereka menyekolahkan anak-cucunya sekadar sekolah tepi sungai pun" lanjutnya. 
 
Aku hanya terduduk diam, ikut merenungi buah pikir kawanku satu itu. Hidupnya memang gila belakangan ini, anak dari keluarga mampu yang diusir dari rumahnya, aku kira bercandaan jaman SD seperti "jangan buat kecewa keluarga sebelum dicoret dari KK" sudah dibuktikan oleh dia seorang, yah setidaknya setahuku cuma dia. Dan sekarang kawanku menumpang di kamar kos kumuh berukuran 3x4 milikku. "Cukuplah kamu berkomentar dan mengeluh tentang derita orang lain, bukankah kamu sendiri juga menderita sekarang? setidaknya pakailah air mata dan amarahmu itu sebagai bensin semangat hidupmu" kataku.
 
"Ah, semangat tai kucing. Tau sendiri kamu bagaimana hidupku dan gejolak hasratku sebelum kejadian itu, tak pernah aku mengeluh, garis mukaku sudah aku setting untuk tertawa. walau seluruh orang di kecamatan tahu kalau aku ini tidak punya bakat, setidaknya aku menjadi orang yang ramah. Tapi... manusia memang anjing!" Keluar sudah kata-kata kasar dari bibir mungil kawanku ini, kalau sudah begini aku tidak bisa apa-apa selain mendengarnya mengumpat sampai subuh di lima hari kedepan.
"Kenapa kamu marah? apalagi yang kamu khawatirkan? bukankah kamu sudah bebas dari lingkungan memuakkan itu, tinggal bersamaku dan menjadi dirimu sendiri bukannya itu yang selalu kamu inginkan? Untuk apa amarahmu ini, apalagi yang kurang?" Di sini aku samasekali tidak menghakiminya, aku hanya senang saja berbicara dengan kawanku, dia orang yang Objektif lagi mampu berpikir dari sudut pandang mana pun, dan aku percaya bahwa di setiap keluhannya, pasti ada maksud lain. 
 
"Kau tahu, kenapa Tuhan bisa menciptakan bermacam-macam manusia dengan kemampuan dan keahliannya, ditiupkanNya bakat-bakat yang indah dan menarik, dibuatNya mereka semua menjadi manusia yang memiliki passion dan gemuruh perasaan yang menggebu-gebu. Tidak lupa juga dengan rupa-rupa mereka yang menawan?"
 
"Aku tidak tahu, memangnya kenapa? kamu tahu?"
"Aku sendiri juga tidak tahu, bodoh. Itukan hanya rhetorical question. Tidak ada yang tahu jawabannya apa jadi tidak perlu juga ada yang menjawab. Tapi hal ini mengganggu sekali, kepalaku ingin pecah saja rasanya, jancuk." walau mengumpat pun aku tahu dia sedang kesusahan, suaranya semakin mengecil sayup sayup dan bergetar dia melanjutkan.. "Dua puluh empat tahun aku hidup, tapi aku selalu menjadi manusia yang gagal, mungkin juga tidak karena seingatku dulu aku juara 1 di kelas sampai kelas 5 di Sekolah Dasar. tapi entahlah, aku merasa bahwa aku hanya tidak pernah cukup. Aku ini... mau sesangar apapun juga gak akan pernah cukup di mata orang. mau se pintar, sebaik, segila dan sejahat apapun juga masih gak cukup. buat jadi goblok aja aku gak cukup, apalagi jadi pandai"
Aku dengar dia tertawa terpingkal, kulirik dari sudut mataku, dia hisap rokok putihnya. Melalui buku-buku jari tangan kanannya asap putih membumbung tinggi sampai ke genteng kamarku. sekilas aku lihat pantulan cahaya kecil di matanya. dengan cepat, dia seka pipinya sendiri. Belum sempat aku berucap, dia lanjutkan lagi kekesalannya..
 
"aku ini ada cuma sebagai contoh orang gagal. kau tahu? supaya ibu-ibu di luar sana bisa menunjuk aku sembari berucap kepada anaknya --lihat dia, kalau kau tidak sungguh-sungguh, kau akan jadi orang rendah seperti dia--"

Mendengar itu aku jadi tertawa dalam hati, kasihan sekali kawanku, merasa sial seumur hidupnya, memaki dan menyalahkan siapa saja. berbicara dengan Tuhannya saja dia jarang, dia hanya mengeluh dan tidak benar-benar meminta perubahan. "Sombong. kamu sendiri tidak pernah meminta, tidak pernah berdoa ditiap sepertiga. Bukannya sedikit banyak aneh jika tiba-tiba kamu dijabah, padahal kau sendiri yang congkak dan melupa". adalah tanggapanku, nanti 5 hari kedepan, saat emosinya mereda, saat sudah siap hatinya mendengar kritikan.




Wednesday, January 17, 2018

LIFE HACKS from Dad.
boleh berteman tapi tidak boleh belebihan.
karena tujuan hidup manusia: berkeluarga.

mendahulukan teman lebih dari segalanya hanya bikin kecewa.
karena tahu bahwa besok saat kamu butuh yakin, dia tidak ada.

dibilangnya, kamu harus bisa mengatasi kesepianmu. jangan buat temanmu nomor 1.
ditekankannya, hiduplah dalam kewajaran---tidak terlalu bebas dan tidak juga terkekang.
diselipkannya, kalo pacaran ya tiap malam minggu datang.
kalo dia mendahulukan teman?
yaah.. tinggalkan.




Wednesday, January 3, 2018

Aku memaki waktu
aku, memaki waktu.  
dia mempertemukan tapi memisahkan, 
dia memulai tapi tidak melanjutkan. 
dia berjalan tanpa melihat kebelakang 
tapi sekarang, berputar putar bagai lingkaran. 
dan aku? terjebak di dalam.
(aenxious)





akhir
rasanya memang tidak ada yang bohong dalam menyayang. hanya saja, mereka berhenti melanjutkan.




Monday, January 1, 2018

gotta find somebody new
who love me
like you love you




Sunday, December 17, 2017

HARI KEBALIKAN



OH YA! aku punya teori.

jika kau menyayangi seseorang, kau akan bisa bangun pagi untuk menepati janji
jika kau peduli akan seseorang, kau akan dengan senang mendengarkan ceritanya
jika kau ingin membuatnya bahagia, kau akan lebih dari mampu memberikan hal-hal sederhana yang terhitung kecil, untuknya
jika kau rindu, kau akan datang dan mengetuk pintu rumahnya
jika kau tidak ingin dilupa, kau tentu akan membuat memori sebanyak-banyak dengannya
jika kau ingin memahami, kau akan mencari jalan untuk terlibat kedalam dunianya
dan jika kau sungguh ingin bersama, sudah pasti kau akan mendekap dan menjaga

yang aku tau, itu adalah teori ter-wajar dalam berkencan.
tidak berlebihan. sewajarnya orang dalam berhubungan.

anehnya, kenapa teman kencanku tidak mengaplikasikan teori itu.
apa memang benar bahwa 4 tahun kebelakang adalah hari kebalikan bagiku?







Label
Aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan.
bagaimana ya, ini seperti kau memiliki perasaan yang bahkan sulit merangkainya menjadi kata-kata untuk disampaikan.
kemudian, aku hanya diam.
bagaimana tidak, satupun saja tidak ada yang berniat mendengarkan.
aku memang suka bercanda, hampir tidak ada keseriusan dalam rautku. yah, sepertinya aku terlahir dengan garis garis wajah penuh komedi dengan sedikit memelas.
sedih.
menjadi orang yang tidak pernah didengar, adalah hal yang sulit.
suatu kali ku coba mengumpulkan segala keberanian, menangis dan berteriak meminta tolong kepada seseorang.
kepalaku terasa sakit, hatiku terasa sesak, air mataku tak terbendung.
aku merengek.
jangan pernah tanya bagaimana respon yang kudapat. sebab hanya kata "ah alay!" itu saja yang terucap.
wow.
bisakah kau membayangkan bagaimana rasanya?
aku sampai heran,
tidak pernah aku membual namun kenapa aku punya label untuk jangan dengarkan.