|
Monday, December 21, 2020 tersesat
"Tuhan sepertinya senang mempermainkan manusia" ucapnya seraya memukul-mukul tanah, "Lihat, betapa banyak orang-orang yang dibuat gila oleh-Nya, coba katakan orang mana yang masih waras setelah dibolak balik hidupnya, diberiNya kemiskinan dan kelaparan serta dipaksa untuk menjadikan keturunannya bodoh sebab tak bisa dari mereka menyekolahkan anak-cucunya sekadar sekolah tepi sungai pun" lanjutnya. Aku hanya terduduk diam, ikut merenungi buah pikir kawanku satu itu. Hidupnya memang gila belakangan ini, anak dari keluarga mampu yang diusir dari rumahnya, aku kira bercandaan jaman SD seperti "jangan buat kecewa keluarga sebelum dicoret dari KK" sudah dibuktikan oleh dia seorang, yah setidaknya setahuku cuma dia. Dan sekarang kawanku menumpang di kamar kos kumuh berukuran 3x4 milikku. "Cukuplah kamu berkomentar dan mengeluh tentang derita orang lain, bukankah kamu sendiri juga menderita sekarang? setidaknya pakailah air mata dan amarahmu itu sebagai bensin semangat hidupmu" kataku. "Ah, semangat tai kucing. Tau sendiri kamu bagaimana hidupku dan gejolak hasratku sebelum kejadian itu, tak pernah aku mengeluh, garis mukaku sudah aku setting untuk tertawa. walau seluruh orang di kecamatan tahu kalau aku ini tidak punya bakat, setidaknya aku menjadi orang yang ramah. Tapi... manusia memang anjing!" Keluar sudah kata-kata kasar dari bibir mungil kawanku ini, kalau sudah begini aku tidak bisa apa-apa selain mendengarnya mengumpat sampai subuh di lima hari kedepan. "Kenapa kamu marah? apalagi yang kamu khawatirkan? bukankah kamu sudah bebas dari lingkungan memuakkan itu, tinggal bersamaku dan menjadi dirimu sendiri bukannya itu yang selalu kamu inginkan? Untuk apa amarahmu ini, apalagi yang kurang?" Di sini aku samasekali tidak menghakiminya, aku hanya senang saja berbicara dengan kawanku, dia orang yang Objektif lagi mampu berpikir dari sudut pandang mana pun, dan aku percaya bahwa di setiap keluhannya, pasti ada maksud lain. "Kau tahu, kenapa Tuhan bisa menciptakan bermacam-macam manusia dengan kemampuan dan keahliannya, ditiupkanNya bakat-bakat yang indah dan menarik, dibuatNya mereka semua menjadi manusia yang memiliki passion dan gemuruh perasaan yang menggebu-gebu. Tidak lupa juga dengan rupa-rupa mereka yang menawan?" "Aku tidak tahu, memangnya kenapa? kamu tahu?" "Aku sendiri juga tidak tahu, bodoh. Itukan hanya rhetorical question. Tidak ada yang tahu jawabannya apa jadi tidak perlu juga ada yang menjawab. Tapi hal ini mengganggu sekali, kepalaku ingin pecah saja rasanya, jancuk." walau mengumpat pun aku tahu dia sedang kesusahan, suaranya semakin mengecil sayup sayup dan bergetar dia melanjutkan.. "Dua puluh empat tahun aku hidup, tapi aku selalu menjadi manusia yang gagal, mungkin juga tidak karena seingatku dulu aku juara 1 di kelas sampai kelas 5 di Sekolah Dasar. tapi entahlah, aku merasa bahwa aku hanya tidak pernah cukup. Aku ini... mau sesangar apapun juga gak akan pernah cukup di mata orang. mau se pintar, sebaik, segila dan sejahat apapun juga masih gak cukup. buat jadi goblok aja aku gak cukup, apalagi jadi pandai" Aku dengar dia tertawa terpingkal, kulirik dari sudut mataku, dia hisap rokok putihnya. Melalui buku-buku jari tangan kanannya asap putih membumbung tinggi sampai ke genteng kamarku. sekilas aku lihat pantulan cahaya kecil di matanya. dengan cepat, dia seka pipinya sendiri. Belum sempat aku berucap, dia lanjutkan lagi kekesalannya.. "aku ini ada cuma sebagai contoh orang gagal. kau tahu? supaya ibu-ibu di luar sana bisa menunjuk aku sembari berucap kepada anaknya --lihat dia, kalau kau tidak sungguh-sungguh, kau akan jadi orang rendah seperti dia--" Mendengar itu aku jadi tertawa dalam hati, kasihan sekali kawanku, merasa sial seumur hidupnya, memaki dan menyalahkan siapa saja. berbicara dengan Tuhannya saja dia jarang, dia hanya mengeluh dan tidak benar-benar meminta perubahan. "Sombong. kamu sendiri tidak pernah meminta, tidak pernah berdoa ditiap sepertiga. Bukannya sedikit banyak aneh jika tiba-tiba kamu dijabah, padahal kau sendiri yang congkak dan melupa". adalah tanggapanku, nanti 5 hari kedepan, saat emosinya mereda, saat sudah siap hatinya mendengar kritikan. |