|
Saturday, July 24, 2021 alumni pemikir
Cerita tentang cinta tidak selalu berakhir indah. Katanya semua akan indah pada akhirnya, tapi barang siapa yang akan tahu akhir dari sebuah kisah? berhenti hembusan nafas pun tidak indah. itu adalah luka terakhir yang tergores bagi setiap orang yang merasakan maupun yang terlibat. Kematian adalah pelarian sedang cinta adalah pemanis selagi kamu berlari. Kabur dan pergi dari apa yang disebut dengan hidup. Hidup bukan tentang pilihan. semua sudah ditentukan oleh siapa yang tahu. dan lagi-lagi kamu tidak punya kuasa atas hidupmu. sejak bayi pun kamu tidak bisa memilih dari keluarga seperti apa kamu lahir, dengan kondisi dan situasi apa yang kamu alami. makan pun tak bisa kamu memilih, sudah ditentukan kalau kamu akan meminum asi sampai umur sekian. Tentang ritme dan siklus, juga tentang garis yang tak bisa kamu gambar sendiri. Kalau suka, maka kamu akan tetap disini, kalau tidak maka silahkan berlari pergi. Sama dengan cinta, semua cinta yang ada adalah hasil dari tawaran. cinta dengan model dan rupa seperti apa yang seseorang berikan. kamu hanya bisa menerima. tidak pernah bisa benar-benar memilih kepada siapa kamu akan memberikannya. bagi pemberi dan penerima, semuanya sama saja karena tak pernah betul-betul paham untuk siapa, kepada siapa perasaan cinta itu muncul. Cinta yang seperti gula, membuatmu mabuk dan ketagihan. Seperti euforia. Menyenangkan sekaligus menegangkan. Sampai nanti, saat penyakit mulai datang, seperti diabetes yang akan kamu derita. Lalu segalanya terasa memuakkan. Senyum yang awalnya membuat hatimu kejang lambat laun membuatmu eneg. Terlalu manis, terlalu banyak gula. Dan kata terlalu pun membuatmu tertekan. Cinta itu seperti gula bagi anak kecil yang menjadi pesakitan saat dewasa. Bahkan cinta paling tulus pun memiliki efek samping. Jadi, bagaimana kamu bisa memilih kalau semua pilihan sudah kamu kuasai efeknya? Selagi kamu berpikir, aku dan sekumpulan alumni pemikir lain akan terus pergi dan berlari. |