|
Saturday, June 24, 2023 sebesar buah duku
Segenggam rindu yang kumasukkan dalam kantong beludru warna biru. Sudah aku tambahkan beberapa butir kenangan, potret, baju, topi, juga sepatu yang mengingatkanku padamu. Aku ikat rapi bersamaan dengan alamat rumahmu yang kutulis pada sobekan kertas daur ulang yang biasa kugunakan untuk mengganjal pintu kamarku. Dan kumasukkan semuanya ke dalam peti kayu mungil yang muat di saku bajuku. Membawanya kesana-kemari, menemaniku dalam perjalanan magis sejak dua minggu yang lalu. Tak pernah sedikit pun aku berniat untuk mengirimkannya kepadamu, karena jujur saja nyaliku bahkan tidak pernah sebesar biji salak pondoh. Selalu sekecil duku. Menimbang berat nyaliku adalah sia-sia, seperti membuang-buang waktu dan baterai pada semua merek timbangan digital yang pernah ada. Pada
sepanjang jalan, sesekali aku letakkan tangan di saku, memastikan keamanan peti
kayu itu. Terkadang ingin kubuang begitu saja, berulangkali terpikir untuk meninggalkannya di trotoar
dekat tiang listrik berbau
kencing anjing liar dengan sentuhan topping tai tikus got.
Membawa-bawa rindu dan kenangan terasa melelahkan. Walau kecil tapi cukup untuk
membuat saku bajuku menjadi longgar, cukup untuk membuat tulang punggungku
menjadi bungkuk seperti penderita kifosis. Tapi lagi-lagi,
nyaliku yang sebesar duku itu menghentikanku. Entah apa yang aku takutkan,
padahal dengan lenyapnya peti kayu itu sama saja dengan melenyapkan
penderitaanku. Mungkin aku terasa sayang, karena siapa tahu di masa datang,
peti kayu ini berguna, baik-baik aku harus menjaganya dengan pikiran suatu saat
peti ini adalah penyelamat. Di
minggu pertama aku berkontemplasi, apakah perjalanan ini begitu berarti, dan kalau iya, seperti apa tempat yang
nanti menjadi pengakhiranku. Apakah aku akan berada di tempat yang tinggi, hijau dan sejuk. Atau berujung pada tempat yang tandus,
kuning dan panas. Apakah
aku menyesali dan mengutuk langkah kakiku, apakah sebaiknya aku di rumah saja
menunggu waktu yang pelan-pelan melemahkan aliran darahku. Pada
minggu kedua aku mulai tidak memikirkan apa-apa, karena sudah terlanjur
berjalan jauh, seperti merepotkan saja rasanya kalau aku harus memutar balik
dan kembali ke pelukan ranjang di kamarku. Maka aku berjalan kedepan dan
mengikuti arah jalan. Sesekali berhenti di kedai yang tidak terlalu sepi tapi
tidak juga terlalu berisik, menikmati kudapan seadanya meski tak sering juga
makanan yang disajikan terasa seperti tai kucing yang kering pada tumpukan pasir bangunan. Tidak apa-apa, kiranya masih bisa aku akal dengan minuman soda
rasa-rasa. Kemudian, aku melanjutkan perjalanan lagi. Berhenti
di setiap tempat baru, mengenal beberapa orang baru yang tidak sengaja
berpapasan. Memakan
makanan asing, meminum minuman umum. Semua aku lewati dengan biasa-biasa saja,
menyimpan baik-baik memori baru untuk menumpuk memori-memori yang lalu. Kilas
balik kejadian yang tidak mengenakkan akan aku akal dengan kejadian tidak
mengenakkan lain selama perjalanan. Asal yang lalu benar-benar tertumpuk sampai
aku malas untuk membongkar kepalaku untuk melihatnya. Kenangan buruk tidak pernah terlupa, tapi
setidaknya aku bisa merasa malas untuk mengingatnya. Seperti
itu penyembuhan diriku. Aku lalui semuanya dengan perasaan yang aku
biasa-biasa-kan saja. Berpura-pura semua terkendali sampai aku lupa diri pada kenyataan
yang aku hidupi. Bersembunyi saat bersedih meski tidak ada yang berubah jika
aku menangis. p.s Oh,
kabar peti kayu itu? Setelah
dua minggu, peti kayu itu masih ada di saku bajuku. Tidak pernah betul-betul
aku buang atau kukirimkan pada alamatmu. Karena yaaa, kau tahu kan. Nyaliku
hanya sebesar buah duku. x |